Halaman Depan

Showing posts with label Emosi. Show all posts
Showing posts with label Emosi. Show all posts

Tuesday, April 5, 2022

Dilema BBM

Per 1 April 2022, pemerintah Indonesia mengubah harga (kalau tidak ingin dibilang menaikkan harga)  BBM merk Pertamina. Pertalite yang semula Rp7.650, tetap di Rp 7.650 namun dengan adanya subsidi dari pemerintah. Pertamax yang semula Pr 9.000 an, kini meroket ke Rp 12.500. Perubahan harga yang cukup drastis. Pertamax turbo, Pertamina Dex, dll saya tidak hafal karena memang hampir tidak pernah menggunakan BBM tersebut.
Perubahan harga tersebut terasa semakin menyakitkan bagi pengguna kendaraan bermotor yang sering mengisi BBM di pertamini seperti saya. Pertalite sih tetap di sekitar Rp 8.500 an tapi memang jadi lebih rawan kehabisan. Pertamax nya jadi Rp 13.500. 

Friday, October 7, 2016

Werewolf Game

Bagi yang belum tau apa itu werewolf game, mungkin bisa dibaca di sini atau link kaskus di bawah. Saya sendiri baru kenal permainan werewolf belakangan ini sih. Telat banget. Permainannya nya asik. Seru. Intrik, spionase, spekulasi, logika, backstabbing, dan lain-lain berpotensi muncul di permainan ini. Cocok untuk mereka yang senang dengan game-game psychological.
Sebenarnya, game ini didesain untuk  dimainkan beramai-ramai dengan menggunakan seperangkat kartu werewolf game.  Tapi agak susah juga harus nyari banyak temen yang berkenan maen (karena semakin banyak pemain semakin seru). Belum lagi kartunya belum lazim ditemui di Indonesia. Mungkin bisa dibuat sendiri sih.

Nah, di playstore sendiri ada beberapa aplikasi untuk bermain werewolf game baik secara offline maupun online. 


Untuk werewolf versi android yang ini, memang dibuat jauh lebih simple dibanding versi aslinya.  Di sini kita hanya bisa berperan secara random antara werewolf, werewolf hunter, dan civilian. Tetap seru sih tapi. Apalagi jika ketemu orang-orang yang chat nya agak koplak. Setidaknya game ini cocok buat mereka yang ingin maen werewolf game tapi tidak ada teman maen atau tidak punya kartu nya.

Berikut sedikit screenshotnya.


Saturday, August 20, 2016

Buram

Saat saya mulai mencoba memikirkan masa depan, banyak hal yang terasa benar-benar buram. Saya jadi takut melangkah. Misal saja, masalah pekerjaan. Akhir Desember nanti, mungkin merupakan waktu terbaik untuk saya mundur dari pekerjaan saya saat ini. Tapi tentu banyak hal yang saya takutkan. Jika mundur, mau kerja di mana? Gimana penalty nya? Berarti nikah nya bakal makin mundur ya? Belum lagi ilmu yang didapat belum seberapa. Tapi jika gak segera mundur, risiko nya saya harus betah hingga 3-4 tahun ke depan dengan risiko-risiko lain yang lebih besar.
Atau mungkin soal cari jodoh. Hal yang ini malah lebih buram lagi. Jadi keinget saat main catur. Sebuah permainan yang mungkin dapat sedikit dijadikan simulasi dalam pengambilan keputusan. Mereka menyebut saya sebagai pemain lama. Ya.. Lama dalam berpikir tapi akhirnya malah banyak hal yang luput dari perhatian. Saya memang kurang pandai dalam hal-hal seperti ini.

(sumber: http://pewartaekbis.com)

Tuesday, March 22, 2016

Ice Cream


Postingan kali ini, saya ingin menceritakan sedikit tentang judul blog saya periode Maret 2016, Ice Cream. Judul ini terinspirasi dari judul anime 'Hyouka' (yang dalam bahasa inggris bisa diartikan sebagai edible ice yang merujuk ke ice cream), anime yang tayang pada tahun 2012. Salah satu anime favorit saya yang sampai saat ini masih tersimpan rapi di hardisk laptop. 



Source: http://myanimelist.net/anime/12189/Hyouka 

Friday, March 18, 2016

Hujan


Sudah hampir 3 pekan saya berada di Manna, sebuah kota kecil di Provinsi Bengkulu. Beberapa hari belakangan, di sini sering turun hujan yang cukup deras. Agak ngeri juga. Terutama ditambah dengan listrik yang padam dan atap yang terbuat dari seng. 

Mungkin banyak yang dari kalian adalah seorang penyuka hujan. Entah karena bau nya, entah karena suasananya, entah karena memang suka basah-basahan, saya kurang paham yang seperti itu. Jika mereka yang menyukai hujan disebut pluviophile, mungkin saya lebih pantas disebut pluviophob. Yahh, tapi saya sadar setakut-takutnya saya dengan hujan ataupun kehujanan, hujan adalah berkah. Tidak selayaknya hujan dibenci dan dimaki-maki. Dari hujan, muncul air tanah yang berguna untuk fotosintesis, air sungai yang dapat dimanfaatkan memutar turbin, air A*ua yang biasa kalian minum, ataupun yang lainnya.



Kalo saya sih malah panik
(Source: coastalcrone.files.wordpress.com) 

Thursday, October 1, 2015

Sudah 5x

Gagal itu hasil atau proses?
Pandang sebagai proses, maka saya akan belajar untuk tidak tenggelam dalam keputusasaan.
Pandang sebagai hasil, maka saya akan belajar untuk berusaha lebih keras dan tetap bertawakal.

Sedihlah karena gagal
Belajarlah dari kegagalan
Asah sabarmu dengan kegagalan
Bertambah kuatlah setelah gagal
Tapi jangan terlalu sering gagal juga sih

Posted via Blogaway

Friday, May 9, 2014

Setelah Hiatus

Akhirnya bisa kembali nulis-nulis di blog lagi setelah sebulan lebih sedikit tanpa postingan. Emang diniatkan hiatus sebulan sih, tapi blog minim follower kayak gini mana ada yang sadar kalo yang nulis sedang meliburkan diri nulis. Jangankan follower, Pageview nya nambah aja dah Alhamdulillah. Tapi bagaimanapun keadaannya, saya masih menikmati maen-maen dengan blog yang berumur 5 bulan'an ini. 
Menulis itu ribet, tapi cukup menyenangkan. Saya jadi sering kepikiran, "kira-kira ini cocok buat bahan tulisan gak ya? wah kayaknya ini bagus buat ditulis." dan semacamnya. Yang sulit dari cari bahan menulis adalah, tema yang kita anggap bagus belum tentu menarik buat pembaca. Misalkan, pengalaman waktu bla bla bla apalah. Mungkin bagi kita menarik dan berkesan, tapi mungkin bagi orang lain biasa aja. Meskipun dapat ide bagus pun kadang malas buat merealisasikan dan menyelesaikannya. 
Selain itu saat menulis, saya cenderung ingin menyampaikan semua hal yang ada dalam pikiran saya untuk dituangkan dalam tulisan. Bisa dibilang sisi keegoisan penulis lah mungkin. Tapi, belum tentu juga pembaca mau baca tulisan panjang-panjang, terutama pembaca yang lebih suka lihat gambar. Ribet. Memang saya yang aneh. Blog belum tentu dibaca juga dah mikirin ribet-ribet. Padahal penulis-penulis terkenal mungkin menulis tanpa memikirkan hal-hal ribet macam itu, mereka menulis apa yang mereka suka. Suka silakan baca, kalo tidak ya gak usah.
Lalu yang paling susah, mempromosikan blog atau postingan baru. Seperti terlihat pada paragraph-paragraph sebelumnya, sepertinya saya masih agak pesimis dengan tulisan saya sendiri. Gara-gara itu, saya jadi gak enak kalo mempromosikan blog yang masih amburadul. Lalu belum dapet media yang pas dan efektif buat promosi. Yo wes lah yang penting nikmati aja dulu maen-maen dengan blog. Nulis blog gak usah terlalu dipikir kayak nulis tugas.

Thursday, March 27, 2014

Sebuah Keraguan Terulang


Di semester-semester akhir ini, muncul banyak pertanyaan dalam otak saya. Salah satunya yang paling besar yakni, "Kira-kira ntar habis lulus bakal kerja di mana ya?" Masa lalu seperti terulang. Dulu saat kelas XII SMA, pertanyaan yang mirip muncul. "Kira-kira nanti habis lulus kuliah di mana ya?". "Enaknya masuk jurusan apa ya?"

Mengingat saat menentukan pilihan jurusan kuliah. Cukup sulit juga. Waktu itu kita harus memperkirakan peluang masuk karena mayoritas yang pengen kuliah pada ngincer PTN. Menyesuaikan nya dengan minat, nilai rapor, dan juga prospek kerja nya nanti. Belum lagi menyusun strategi memilih jurusan dari yang grade tertinggi sampai grade terrendah. Ribet. Dengan mempertimbangkan berbagai hal tersebut, saya mulai khawatir ntar bisa kuliah di PTN atau tidak. Hal itu mengakibatkan saya ikut berbagai jalur masuk PTN dengan brutalnya. Saya langsung banyak-banyak coba jalur pendaftaran sebelum ujian nasional. Siapa tau ada yang kecantol. Alhamdulillah, Allah memberi saya kesempatan hingga akhirnya sekarang saya bisa kuliah di JTSL FT UGM.

Seperti yang saya tulis tadi, masa lalu seperti terulang. Memang gak sepenuhnya sama sih. Lulusan teknik sipil memiliki berbagai pilihan prospek kerja untuk ke depannya. Umumnya, mereka bisa jadi pekerja bidang konstruksi (konsultan pengawas, konsultan perencana, pelaksana proyek (kontraktor)), pegawai PU, dosen, pegawai tambang (bener gak yo istilahnya?) dan lain-lain hingga pegawai bank. Memang sih tidak menutup kemungkinan untuk memasuki pekerjaan yang sama sekali di luar bidang keahliannya. Dengan pilihan yang cukup banyak tersebut, wajar jika saya bingung mau kerja di mana. Terlebih lagi, selain terlalu banyak pilihan, banyak juga faktor lainnya.

Pekerjaan yang berkaitan dengan konstruksi, berkaitan dengan keselamatan pengguna produk konstruksi tersebut. Perlu pengalaman kerja yang cukup banyak. Belum lagi dunia konstruksi itu cukup gelap (Walau mungkin gak semua kayak gitu sih). Banyak uang yang 'abu-abu' bersliweran. Tegakah kita memberi makan keluarga dengan uang yang demikian? Bank juga gak jauh beda kayaknya. Entahlah kalo PU saya kurang tau. Dosen, perlu kemampuan akademis dan penyampaian yang bagus. Tambang biasanya persyaratan agak sulit dan harus siap berlama-lama di luar jawa. Kerja di luar bidang sipil, entah kerja seperti apa belum ada bayangan dan sayang juga kuliah nya. 

Sampai sekarang, saya masih ragu bakal pilih kerja di mana. Makin dipikir makin bikin bingung. Kita tidak akan pernah tahu masa depan kita, sampai kita mengalaminya. Yang penting, terus berdo'a saja kepada Allah agar dipertemukan dengan takdir yang paling baik. 


Postingan yang kurang menarik mungkin. Gak ada gambarnya. Isi nya terinspirasi dari obrolan saat les SAP 2000.

Saturday, March 22, 2014

Kormasit - Parasit


Ngepost tentang KKN sekarang mungkin memang sudah agak kadaluarsa. KKN PPM UGM pada bulan Juli-Agustus 2013, bagi saya momen tersebut merupakan salah satu dinding besar yang harus dilewati untuk mencapai kelulusan selain dinding lainnya yakni PPL dan Tugas Akhir. Terlebih lagi, dalam kumpul pertama KKN GK-04 di KPFT, saya ditunjuk jadi kormasit (Koordinator Mahasiswa tingkat Sub unit). Saat itu, pembagian subunit entah berdasarkan apa saya lupa, cowok yang dapat subunit Dusun Temon ada Saya, Adhi, dan mas Eko. Karena saat itu mas Eko gak datang, sedangkan Adhi sudah menjabat sebagai kormanit (Koordinator Mahasiswa tingkat Unit), mau tidak mau saya yang kebagian jatah sebagai kormasit. Yah mungkin segala sesuatu akan jadi sangat berbeda jika malam tersebut mas Eko hadir. Sangat mungkin.

Awal-awal, kormasit disuruh ngumpulin estimasi biaya hidup 2 bulan. Selain itu, kormasit disuruh merekap apa saja kebutuhan subunit. Apa saja yang perlu dibawa masing-masing, si A bawa apaan, si B bawa apaaan, apa aja perlengkapan subunit yang belum tersedia, dan lain-lain. Survey mengumpulkan informasi dari dusun yang akan ditempati. Ribet. Dan liat-liat berbagai persiapan subunit lain, entah di grup facebook maupun saat rapat per subunit, terlihat begitu rapi dan teratur. Menyilaukan. Bikin Minder. Saya jadi kasihan sama orang-orang apes yang harus dikoordinir oleh saya waktu itu.



Estimasi (sempet pengen iseng bikin di paint sih)

Bagi saya yang semi introvert, gak pandai ngomong, gampang panik dan bingung, ceroboh, perusak, dan lain-lain, harus jadi kormasit selama 2 bulan kurang sedikit itu jadi pelajaran banget. Tapi gak tau juga pelajaran yang didapat masih bersisa gak sampai sekarang. Awal-awal KKN, saya sempat diprotes kok kormasit gak pernah ngasih komando atau semacamnya. Banyak evaluasi yang saya dapat misalnya keraskan suara kalo ngomong, jangan bingung, terima kritik, jangan malu bersosialisasi dan lain-lain, malu kalo harus ditulis semua. Harus berinisiatif bikin jadwal sosialisasi anak KKN dengan warga per RT, mengenal warga dusun sebanyak mungkin (sebenarnya ini tugas semua juga sih). Jelas bingung dan tertekan di awal-awal, namun seiring berjalan waktu, mulai terbiasa juga.

Terbiasa bukan berarti selalu melakukan segala sesuatu dengan benar. Di pertemuan sosialisasi per RT, saya gak terlalu banyak berperan seperti seharusnya. Saya juga masih belum berhasil mengompakkan temen-temen subunit (menurut saya).  Pas ada acara kluster tertentu gak semua anggota subunit datang meskipun mungkin luang (saya termasuk), gak kayak Dusun lain yang bener-bener kompak. Juga saat evaluasi rutin subunit, saya juga paling cuma mbuka dan nutup. 

Dusun Temon yang kami sebut sebagai negara api, dusun yang penuh kehangatan. Tapi kalo sekali panasnya keluar, ngeri. Contohnya pas kami rencanain bikin lomba buat memperingati hari kemerdekaan. Sempat terjadi perselisihan antara kaum pemuda dengan kaum tua pas malam tirakatan yang kami manfaatkan untuk ngobrolin rencana kami. Tondy dan Gaby mungkin yang paling kerepotan malam itu. Lagi –lagi saya gak berbuat banyak. Dan akhirnya, setelah dipikir dan dibicarakan selama beberapa hari, malah beberapa lomba gak diadakan. Kalo diinget-inget, mungkin itu bagian KKN yang paling suram.

Saat mendekati akhir-akhir, kami sibuk dengan administrasi laporan KKN. Berbagai kabar yang muncul memang cukup membingungkan. Saat saya sempet turun ke Jogja, saya coba tanya ke temen-temen jurusan tentang laporan KKN. Siapa tahu dapat pencerahan. Ada yang sama-sama bingung, ada yang dah selesai, dan yang unik, ada yang bilang ,”Takon wae nyang kormasitmu!” (tanya aja ke kormasit mu). Berarti, default nya kormasit seharusnya tahu tentang detail pengerjaan laporan KKN dari LPK, R1, R2 dan apalah lainnya itu saya lupa. Sekali lagi saya gagal sebagai kormasit. Dan tentu masih banyak kegagalan lainnya, termasuk ngrepotin kluster sainstek dengan ngambang dan gajenya program filtering (yah ini gak nyambung sama kormasit sih).

Saya mungkin gak setenang Adhi, gak sebijak Anton, maupun gak sevisioner Tondy. Jelas akan berbeda jika yang jadi kormasit salah satu dari mereka. Tapi semoga dengan pelajaran sebagai kormasit ini, saya bisa jadi orang yang lebih baik ke depannya. Teman-teman GK-04, khususnya subunit temon, meski mungkin kalian takkan membaca tulisan ini, maaf nggih jika selama 2 bulan saya lebih mirip parasit daripada kormasit. Terima kasih sudah jadi inang saya selama 2 bulan tersebut. Sebenarnya hingga saat tulisan ini ditulis, ada sedikit yang masih mengganjal dalam pikiran saya. Saya merasa masih ada hutang terhadap Dusun Temon. Entah apa.


Thanks to:

Temen-temen subunit Temon (biar gak mainstream, fotonya pake nasi kuning yang dipake buat lomba mumpung pas ada 7)


Tondy 
Mbak Tania
Gaby 
Frayda 
Mbak Dian
Anton
Adhi

Sunday, January 26, 2014

Belum Cukup Dewasa


21 tahun, setidaknya sudah setua itu saya saat tulisan ini dimulai (pembulatan ke bawah). Sudah lumayan tua juga ternyata. Seperti kata orang kebanyakan, tua itu sudah suatu kepastian (kalo gak mati muda sih), sedangkan dewasa itu pilihan. Ya, pilihan. Pilihan untuk berpindah dari kehidupan anak-anak yang menyenangkan dan santai menuju kehidupan orang dewasa yang lebih serius, melelahkan, dan penuh tanggung jawab. 

Masih terngiang perkataan teman, "Usia kepala 1, berarti setidaknya siap untuk ngurus 1 kepala (diri sendiri). Kepala 2 berarti dah siap untuk ngurus 2 kepala (nikah dan membina rumah tangga)." Sebuah pernyataan agak ngaco yang cukup memancing rasa galau nikah bagi anak kuliahan macam saya. Namun, saya sering lupa kalo menikah, kita harus siap. Siap dari segala aspek mulai dari jasmani, finansial, mental, serta perilaku dan pemikiran. Kadang saya berpikir mungkin kira-kira 4 tahun lagi, pulang kerja disambut istri yang cantik sholihah, dan anak yang lagi lucu-lucunya, ah alangkah indahnya dunia. Tapi seringnya sih gak bisa bayangin. Saya yang masih seperti ini, suatu saat harus jadi kepala rumah tangga. Berarti, menjadi dewasa itu bukan pilihan, tetapi sebuah keharusan. Sesuatu yang harus diusahakan.

Tapi kalo dipikir-pikir, menjadi dewasa itu susah. Entah darimana saya harus baca tutorialnya. Dari yang saya amati, menjadi dewasa terdiri dari berbagai hal: berkepala dingin dan tenang dalam mengambil keputusan, berpikir logis dan rasional, tidak mudah terpengaruh, bijak dalam memimpin dan menyelesaikan masalah, cara bicara dan berkomunikasi yang tertata, dan entah lainnya. Rumit. Bukankah banyak mereka yang bilang bahagia itu sederhana, ya kan? 

Padahal sudah 21 tahun, tapi saya masih saja, gimana ya kalimatnya yang enak.. terlalu menikmati jadi anak-anak mungkin. Ya di satu sisi, fisik, saya juga tidak setinggi laki-laki seusia saya pada umumnya. Kalo mental mungkin juga belum sedewasa umur yang seharusnya. Dalam mengambil keputusan, masih bingungan dan cenderung minta pendapat orang lain. Terlalu sering panik kalo ketemu permasalahan rumit. Jangankan yang rumit, yang simpel saja masih sering panik. Mungkin karena saya juga jarang ketemu masalah yang benar-benar besar sih.