Perasaan bersalah dan berdosa menaungi saat tulisan ini ditulis dan diselesaikan justru saat Tugas Akhir baru masa kritis-kritisnya. Terkadang saya memang terlalu ‘halus’ pada diri saya sendiri. Ini mungkin bukan tulisan tentang merbabu jalur wekas, tapi lebih ke pengalaman kami saat melaluinya.
Mumpung masih belum lulus kuliah, banyakin naik gunung. Hanya sekedar pemikiran subyektif sih. Habisnya setelah lulus, mungkin bakal disibukkan dengan pekerjaan dan gak sempet muncak. Sempet pun waktunya mungkin gak banyak. Dan juga dari naik gunung banyak pelajaran dan kenangan yang didapat. Seperti yang kami lakukan Syawal kemarin, ke Merbabu. Lagi.
Sebagai pendaki abal-abal, saya memang cenderung lebih suka mencapai puncak yang belum saya capai sebelumnya. Tapi berhubung temen-temen kampus nya Uud yang pengen ikut banyak minta ke Merbabu karena katanya view nya yang termasuk wah, ya udah. Gunung yang belum pernah saya coba (Sumbing, Slamet, Semeru, Rinjani, dll) juga sepertinya tidak memungkinkan karena waktu, kondisi, maupun letaknya. Boleh lah Merbabu lagi, asal lewat jalur yang belum pernah saya lewati: Wekas.
Dalam pendakian kali ini, rombongan kami lumayan banyak juga. 14 orang. Dari pihak keluarga (kami menyebutnya Badala, singkatan dari 'Bani Mahdali Adventure' yang 'dibentuk' di persiapan pendakian kali ini) ada saya, Uud, Hafid, mas Luqman, mas Yusuf, mas Fajar, dan mas Rian. Dari temen-temen SMK nya Uud, ada Yahya alias si John, Aidult, Sena, Akmal, Irfan, dan Fa'at. Dan dari temen kampus nya Uud cuma ada Diita, satu-satunya cewek dalam rombongan (Sebenernya ada 2 lagi yang pengen ikut tapi gak dapet restu orang tua nya). Dari 14 orang dalam rombongan, lagi-lagi saya yang paling pendek, bahkan dibanding dengan Hafid yang masih kelas 2 SMP sekalipun.
Kumpul di markas II 'Badala'
Sebelum berangkat (tunggu-tungguan)