Halaman Depan

Friday, April 24, 2015

Terkadang, Memberi Pinjaman Lebih Utama Dibanding Memberi


Jarang-jarang nih saya ngepos hal-hal kayak gini. Biasanya antara hal-hal gak jelas atau hal-hal yang mungkin sulit dinikmati. Sekali-kali ngepos yang (mungkin) rodo bermutu rapopo lah.


Nabi Muhammad saw. bersabda :

"Satu dirham yang disedekahkan berpahala 10 (sepuluh) kali, sedangkan satu dirham yang dipinjamkan berpahala 18 (delapan belas) kali."

(Hadits Riwayat Thabrani, Ibnu Majah, Baihaqi).

Bagaimana bisa memberi pinjaman lebih utama dari sebuah pemberian (sedekah)? Padahal secara logika, memberi pinjaman berarti kita akan mendapat kembali apa yang kita pinjamkan suatu saat nanti (kalo dikembaliin). Sementara jika memberi, berarti kita harus mengikhlaskan pemberian kita tanpa berharap dikembalikan. Bukankah 'pengorbanan' dari sebuah sedekah itu lebih besar?




Ini sedekah, bukan Kame ha me ha (sumber : dteretro.wordpress.com

Sunday, March 29, 2015

Nasi Goreng Kari


Gara-gara temen kos yang kebetulan namanya sama dengan saya (Ihsan, nah banyak banget yang punya nama ini. Ini berarti nama nya emang bagus), rasa penasaran saya terhadap nasi goreng kari pun muncul. "Di warung itu lho mas, nasi goreng kari nya, Wuuuhh.. Tapi agak mahal sih" Kira-kira begitulah. Padahal saya bukan penggemar nasi goreng. Tapi berhubung ada kata 'kari' nya, saya jadi sedikit tertarik.

Mungkin bagi Anda sekalian, kari sudah merupakan hal yang biasa. Tapi bagi saya, kari ini menu ambigu. Kari yang kadang disajikan di rumah beda dengan di anime jepang. Gak sepenuhnya sama dengan varian rasa mie instan tertentu. Dan beda dengan bumbu kari instan sachet'an yang dijual. Setelah saya search di Wikipedia, kayaknya kari memang punya arti yang sangat luas. 

Wikipedia: Kari adalah nama untuk berbagai jenis makanan yang dimasak dengan rempah-rempah hingga mempunyai rasa tajam dan pedas.


saya: Jadi, kuah-kuah di warung padang bisa dikategorikan sebagai kari juga donk. Makin bingung.


Kalo yang di rumah mungkin mirip yang ini, kare jawa (sumber: mresep.blogspot.com)


Thursday, March 26, 2015

Saat Chrome Gak Konek Internet


Semenjak internet kos mati beberapa bulan terakhir, saya beralih menjadi pemburu hotspot. Selain konsultasi ke dosen dan dateng seminar TA (nyari makan), tentu wifi an gratis jadi alasan utama ngampus. Meskipun lumayan cepet (asal gratis sih, anggap aja cepet) tapi wifi an di kampus bukan tanpa masalah. Selain kadang nyari spot nyaman nya yang repot, kalo apes ketemu ginian (meskipun jarang sih).




Saya agak gaptek tentang jaringan internet. Gak paham kalo yang nongol kayak gambar di atas yang error laptop nya atau dari server nya atau apa lah lainnya. Saya hanya bisa nunggu sambil sesekali ngeklik troubleshoot berharap mendadak balik normal. Pernah tau dari suatu sumber yang saya gak inget, jika tampilan kayak gitu, tekan SPACE. Ntar jadi kayak gini (cek gambar di bawah) Mungkin dah banyak yang tau, tapi apa boleh buat saya tau nya baru-baru ini.



endless run tyranosaurus 

Thursday, March 12, 2015

Tekateki Tanpa Soal (TTS)


Kadang-kadang saat saya balik ke rumah, hobi saya buka koran lalu ngisi TTS. TTS nya cukup sulit meskipun padahal sering banyak pertanyaan yang diulang. Seingat saya, gak pernah bisa saya selesaikan. Sebenarnya ada hadiahnya sih, tapi menurut saya juga gak terlalu setimpal dengan effort yang dikeluarkan. Kita ngisi susah-susah, ngirim lewat kartu pos, hadiah 100ribu, diundi nya bulanan pula.

Sadar bahwa saya hampir gak mungkin dapat hadiah lewat ngisi TTS, akhirnya saya dapat ide buat ngisi TTS jadi lebih menantang. Ngisi TTS dengan tanpa mempedulikan soal. TTS yang sebenarnya Teka-teki Silang pun diubah jadi Tekateki Tanpa Soal. Setelah saya coba, memang lebih susah. Dengan cara normal, kita bisa minta tolong ke bung Google. Ketik soalnya, dan voila!! Kita tinggal mencocokkan hasil searching dengan jumlah kotak. Sedangkan dengan metode iseng ini, dibutuhkan imajinasi (nada spongebob).


Aturan (yang saya pakai):
  • Hanya diperbolehkan mengisi dengan huruf Alfabet A-Z (tanda baca, angka, gambar, dan huruf lain tidak diijinkan).
  • Gunakan kata yang baku berdasarkan KBBI atau KBB lain menyesuaikan bahasa nya(contoh: bukan 'resiko', tapi 'risiko';bukan 'luph' tapi 'Love') 
  • Sangat ditekankan, jangan diisi dengan bahasa alay atau bahasa ciptaan sendiri(contoh: cemyungudzt)
  • Apabila menjawab dengan nama, pastikan nama tersebut dikenal secara luas setidaknya dalam lingkup nasional.
  • Diperbolehkan membuat jawaban dengan tipe pertanyaan yang lazim diberikan dalam TTS (diulang, dibalik, disingkat, eng, dan lain-lain)
  • Jika sudah terlanjur melihat soal, hindari mengisi kotak dengan jawaban yang sesuai dengan soal asli.
  • Isi TTS dengan bolpen, biar kotak yang terlanjur diisi sulit untuk diubah.
Tl;dr, sederhana nya, kita mengganti soal di TTS dengan soal lain yang sama lazim nya, tapi dengan ngisi jawaban terlebih dahulu. 

Contoh pengerjaan, barangkali ada yang bisa bantu ngisi kotak yang kosong

Friday, November 21, 2014

Merbabu - Memori senja (Part 2 dari 2)

Lanjutan dari Merbabu - Gagal ke Puncak (Part 1 dari 2)

Dengan berbagai pertimbangan di antaranya: sisa bekal, sisa waktu, dan kaki yang cukup pegel, akhirnya jam 12 an rombongan memutuskan untuk langsung turun tanpa ke puncak dulu. Bahkan Hafid dan Diita yang baru pertama kali naik gunung pun lebih memilih untuk langsung balik ke tenda. Setidaknya, dengan langsung turun kami berharap dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan yang diakibatkan dari beberapa pertimbangan di atas. Karena bagaimanapun, tujuan naik gunung bukan lah sekedar sampai ke puncak, melainkan kembali dengan selamat. 


Turun ke pos 2, kami mengambil jalur yang agak berbeda dari sebelumnya. Kurang lebih jalur ini didominasi padang ilalang pada awalnya dan sesekali nampak bebatuan yang sepertinya mengandung belerang. Sempat ketemu mata air juga, sayangnya kandungan belerangnya cukup tinggi sehingga gak jadi diambil. Turun menuju camping ground, mungkin sebagian bisa dilihat lewat video berikut:


Barangkali jika ternyata Anda melihat ada tindakan tak terpuji, berbahaya, atau semacamnya dalam video tersebut, mohon jangan ditiru. 


Awalnya saya kira jalur turun yang kami ambil ini  beberapa kali lebih cepat dibanding jalur naik yang kami ambil, ternyata setelah dilewati gak beda jauh juga (efek lelah mungkin). Setidaknya medan nya agak lebih enak dan jelas lebih sepi jika dibanding jalur pas naik. Kalo di peta, mungkin seperti ini:



Kurang lebih yang warna ungu, tapi gak tau juga dink. Gak sadar ada gunung kukusan 

Sunday, November 16, 2014

Merbabu - Gagal ke Puncak (part 1 dari 2)


Perasaan bersalah dan berdosa menaungi saat tulisan ini ditulis dan diselesaikan justru saat Tugas Akhir baru masa kritis-kritisnya. Terkadang saya memang terlalu ‘halus’ pada diri saya sendiri. Ini mungkin bukan tulisan tentang merbabu jalur wekas, tapi lebih ke pengalaman kami saat melaluinya.

Mumpung masih belum lulus kuliah, banyakin naik gunung. Hanya sekedar pemikiran subyektif sih. Habisnya setelah lulus, mungkin bakal disibukkan dengan pekerjaan dan gak sempet muncak. Sempet pun waktunya mungkin gak banyak. Dan juga dari naik gunung banyak pelajaran dan kenangan yang didapat. Seperti yang kami lakukan Syawal kemarin, ke Merbabu. Lagi.

Sebagai pendaki abal-abal, saya memang cenderung lebih suka mencapai puncak yang belum saya capai sebelumnya. Tapi berhubung temen-temen kampus nya Uud yang pengen ikut banyak minta ke Merbabu karena katanya view nya yang termasuk wah, ya udah. Gunung yang belum pernah saya coba (Sumbing, Slamet, Semeru, Rinjani, dll) juga sepertinya tidak memungkinkan karena waktu, kondisi, maupun letaknya. Boleh lah Merbabu lagi, asal lewat jalur yang belum pernah saya lewati: Wekas.

Dalam pendakian kali ini, rombongan kami lumayan banyak juga. 14 orang. Dari pihak keluarga (kami menyebutnya Badala, singkatan dari 'Bani Mahdali Adventure' yang 'dibentuk' di persiapan pendakian kali ini) ada saya, Uud, Hafid, mas Luqman, mas Yusuf, mas Fajar, dan mas Rian. Dari temen-temen SMK nya Uud, ada Yahya alias si John, Aidult, Sena, Akmal, Irfan, dan Fa'at. Dan dari temen kampus nya Uud cuma ada Diita, satu-satunya cewek dalam rombongan (Sebenernya ada 2 lagi yang pengen ikut tapi gak dapet restu orang tua nya). Dari 14 orang dalam rombongan, lagi-lagi saya yang paling pendek, bahkan dibanding dengan Hafid yang masih kelas 2 SMP sekalipun.



Kumpul di markas II 'Badala'
 

Sebelum berangkat (tunggu-tungguan)